Minggu, 20 Januari 2013

BAB 2 PROSES EVOLUSI DAN ANEKA WARNA MAKHLUK MANUSIA



BAB 2

PROSES EVOLUSI DAN ANEKA WARNA MAKHLUK MANUSIA

Standar Kompetensi :
Memahami aneka warna makhluk manusia.
Kompetensi Dasar :
Menjelaskan makluk manusia antara makluk lain, evolusi dan ciri-ciri biologi, evolusi primat dan manusia, aneka warna manusia dan organismenya.
Indikator Pencapaian Kompetensi :
1.    Menjelaskan sistem klasifikasi semua makhluk di dunia berdasarkan atas morfologinya.
2.    Menjelaskan proses evolusi biologis manusia menghasilkan organisme bentuk baru
3.    Menjelaskan evolusi primat dan manusia
4.    Menjelaskan aneka warna makhluk manusia dan organismenya
Tujuan Pembelajaran:
1.    Mahasiswa dapat  menjelaskan sistem klasifikasi semua makhluk di dunia berdasarkan atas morfologinya.
2.    M ahasiswa dapat menjelaskan  proses evolusi biologis manusia menghasilkan organisme bentuk baru
3.    Menjelaskan dapat menjelaskan evolusi primat dan manusia
4.    Menjelaskan dapat menjelaskan aneka warna makhluk manusia dan organismenya
Materi Pokok:
1.    Sistem Klasifikasi Makhluk di Dunia Berdasarkan Morfologinya
                 Pada pertengahan abad ke-19 Charles Darwin mengumumkan teori tentang proses evolusi biologi. Menurut teori evolusi tersebut bentuk-bentuk hidup tertua di muka bumi ini terdiri dari makhluk-makhluk satu sel yang sangat sederhana seperti protozoa. Makhluk ini dalam jangka waktu beratus-ratus juta tahun lamanya berkembang yang makin lama makin kompleks, dan terakhir berevolusi makhluk seperti kera.
                 Para ahli biologi telah membuat sistem klasifikasi semua makhluk di dunia berdasarkan atas morfologinya. Manusia yang menyusui keturunannya diklasifikasikan dengan kelas binatang menyusui atau Mammalia. Klas Mammalia memiliki satu sub golongan atau suku yang disebut dengan suku Primat. Dalam suku primat terdapat semua jenis kera mulai dari yang kecil sampai dengan kera besar. Pada umumnya binatang yang menyusui adalah binatang yang cerdik (intelegen) mempunyai lebih banyak sifat yang berhubungan dengan otak daripada binatang klas reptil atau binatang bertulang belakang. Para ahli biologi menempatkan manusia ke dalam sub suku antropoid. Sistem klasifikasi semua makhluk di dunia dapat dilihat pada bagan berikut:
Suku
Subsuku
Infrasuku
Keluarga
Jenis
Ras






Australoid

Mongoloid

Caucasoid

Homo sapiens
Negroid

Neandertal


Hominidae
Pithecanthropus

Ramapithecus


Hominoid
Pongidae

Cercopithecoid


Anthropoid
Ceboid




Primat


Tarsii formes

Prosimii
Lorisiformes


Daubentonioid

Tupoid

Lemuroid


       Bagan: Suku Primat dan Sub-sub Golongannya (adaptasi Koentjaraningrat, 2006)

Manusia oleh ahli biologi diklasifikasikan dalam bangsa (ordo) primat, sebuah kelompok yang meliputi kungkang, monyet dan kera. Diklasifikasikan demikian karena atas dasar persamaan ciri-ciri anatomi, fisiologi, struktur protein dan bahkan atas materi genetis.  Manusia  sebagai bagian suku primat memiliki persamaan yang terbesar dengan kera. Persamaan yang mendasari klasifikasi makhluk tersebut merupakan indikator hubungan evolusi. Oleh karena itu dengan mempelajari anatomi, fisiologi dan struktur molekul primat lain, kita dapat memahami secara lebih baik ciri-ciri yang diwarisi dari nenek moyang dan ciri-ciri khas yang menjadi milik manusia. Berdasarkan studi ini menunjukkan bahwa banyak perbedaan antara manusia dengan kera berdasarkan perbedaan tingkatan daripada perbedaan jenis.

2.    Evolusi Ciri-ciri Biologi
                 Evolusi didefinisikan sebagai perubahan yang diwarisi dalam genotipe yang menjadi efektif dalam kelompok gen suatu populasi. Gen adalah unit warisan yang sebenarnya. Gen adalah bagian dari molekul DNA (deoxyribonucleic acid), molekul yang kompleks yang menyerupai dua utali yang saling melilit.
                 Evolusi terjadi melalui mutasi yang menghasilkan variasi keturunan, yang kemudian dipengaruhi oleh arus genetik (genetic drift), atau perubahan frekuensi gen secara kebetulan dalam suatu populasi, lalu lintas (arus) gen, yaitu masuknya gen baru dari populasi lain, dan seleksi alamiah (natural selection). Seleksi alamiah adalah mekanisme adaptasi evolusi yang terjadi melalui reproduksi yang menimbulkan perbedaan karena individu-individu yang mengandung gen dengan sifat adaptif mendapat lebih banyak keturunan ketimbang yang tidak mengandungnya.
                 Evolusi dapat berkembang menjadi jenis baru, atau dapat berkembang secara bercabang sebagai jawaban atas mekanisme isolasi. Hal ini dapat terjadi pada populasi yang terpisah-pisah yang membendung lalu lintas gen dari populasi yang satu ke populasi yang lain, sehingga arus genetik dan seleksi dapat terjadi secara berlainan. Proses evolusi ini dapat menyebabkan mula-mula timbulnya ras yang berlainan dan kemudian jenis yang berbeda.
                 Satu gen atau kombinasi dari beberapa gen menjadi beberapa gen yang menjadi penyebab dari satu ciri lahir dari organisme, ada pula satu gen yang menjadi penyebab dari adanya beberapa ciri lahir. Organisme yang baru terbentuk disebabkan  adanya ciri-ciri gen yang kuat atau dominan, sedangkan ciri-ciri gen yang tidak kuat atau resesif tidak akan tampak pada organisme yang baru. Keanekaragaman primat yang dapat disaksikan sekarang adalah akibat pengaruh kekuatan-kekuatan evolusi, yang menyebabkan mereka dapat menyesuaikan diri kepada lingkungan dengan cara yang berbeda-beda. 
                 Koentjaraningrat (2006) menjelaskan proses evolusi menurut analisa ahli biologi dibagi dalam tiga golongan:
(a). Proses mutasi:  suatu gen yang telah lama diturunkan dari angkatan ke angkatan pada suatu ketika saat gen itu dibentuk pada suatu zygote yang baru dapat berubah sedikit sifatnya. Akibatnya terdapat ciri yang baru yang tidak ada pada nenek moyangnya.
(b). Proses seleksi dan adaptasi: suatu proses evolusi yang berasal dari sekitar alam. Gen yang baru telah diseleksi oleh alam yang baru dan terbawa langsung dalam organisme-organisme dari individu-individu dan kelompok.
(c). Proses menghilangnya gen secara kebetulan.
                 Pada pihak lain William A. Havilland (1985) menjelaskan proses evolusi sebagai berikut:
(a).  Keturunan: mekanisme keturunan merupakan bahan baku evolusi, aspek-aspeknya adalah pewarisan gen (DNA, gen, kromosom, pembelajan sel), pola keturunan (pewarisan tipe golongan darah, poligen, yaitu ada dua gen atau lebih yang bekerjasama dengan menimbulkan sifat fenotipe).
(b).  Genetika populasi: sekelompok individu yang dapat berkembangbiak secara berpasangan antara sesamanya. Pada tingkat populasi ini terjadi seleksi alamiah, karena ada anggota populasi yang meneruskan lebih banyak sifat, sedangkan anggota-anggota lain kurang dari jatah mereka masing-masing. Selama generasi demi generasi, populasi ini menunjukkan suatu tingkat adaptasi tertentu terhadap lingkungan, disebabkan oleh mekanisme evolusi tersebut. Genetika populasi dipengaruhi oleh stabilitas populasi, faktor-faktor perubahan, mutasi, penyimpangan genetis, lalu lintas gen, seleksi alamiah. Salah satu akibat dari proses seleksi alamiah adalah bertambahnya adaptasi sesuatu populasi terhadap lingkungannya.
                 Bentuk proses evolusi dapat dibedakan atas:
(a).  Evolusi divergen: suatu proses evolusi yang terjadi karena populasi induk melahirkan dua anak populasi atau lebih yang saling berbeda. Bertambahnya jumlah jenis, yang terjadi karena populasi yang berbeda-beda mengalami isolasi dalam hal reproduksi.
(b).  Evolusi linear/konvergen: suatu proses evoluasi yang terjadi karena dua organisme yang secara filogenetis tidak ada hubungannya satu sama lain mengembangkan persamaan –persamaan yang lebih besar. Perubahan yang terjadi sepanjang masa yang menyebabkan lahirnya jenis, marga (genus) dan suku (familia) baru.
3.   Evolusi Primat dan Manusia
                 Manusia oleh para ahli biologi diklasifikasikan dalam bangsa (ordo) primat, sebuah kelompok yang juga meliputi kungkang, loris, tersier, monyet, dan kera. Klasifikasi ini berdaarkan persamaan ciri-ciri anatomi, fisiologi, struktur protein dan materi genetis. Diantara primat, manusia menyerupai monyet, tetapi persamaan terbesar ialah dengan kera.
       Persamaan yang mendasari klasifikasi hewan merupakan indikator hubungan evolusi. Oleh karena itu dengan mempelajari anatomi, fisiologi dan struktur molekul primat lain, dapat dipahami lebih baik ciri-ciri yang diwarisi dari nenek moyang dan ciri-ciri khas yang menjadi milik manusia.
       Asal usul dan proses evolusi makhluk manusia secara khusus dipelajari dan diteliti oleh sub ilmu dari antropologi biologi, yaitu ilmu paleoantropologi dengan menggunakan sebagai bahan penelitian bekas-bekas tubuh manusia yang berupa fosil-fosil yang terkandung dalam lapisan bumi.
       Dengan kemajuan di bidang ilmu paleoantropologi dan geologi dapat dijelaskan siapakah nenek moyang manusia? Berikut divisualisasikan perbedaan konsepsi lama dan konsepsi baru tentang hubungan manusia dengan primat-primat lain berdasarkan evolusinya.









Manusia
 






 







                 Konsepsi Lama                                                     Konsepsi Baru
Bagan: Konsepsi Lama Missing Link dan Konsepsi Baru Makhluk Induk
                 Berdasarkan skema di atas dapat dijelaskan bahwa kera merupakan kerabat manusia yang paling dekat, di dalamnya termasuk gibon, siamang, orangutan, gorila dan simpase. Menurut struktur ginetik, biokimia dan anatomi simpanse dan gorila adalah yang paling dekat dengan manusia.
Gibon
 
       Lebih jelas berikut ditunjukkan hubungan evolusi nenek moyang manusia sebagai berikut:


 










Hubungan Primat dengan Manusia
                 Primat yang dianggap menurunkan jenis-jenis kera besar seperti orangutan, gorilla, simpansze maupun manusia adalah seekor makhluk yang fosilnya berupa rahang bawah di Saint Gaudens, Perancis Selatan, pada pertengahan abad yang lalu, yang disebut “Dryopithecus”.
                 Makhluk pendahuluan manusia di kawasan Asia Tenggara dalam jangka waktu yang panjang (2 juta – 200 tahun yang lalu) adalah pithecanthropus. Makhluk pithecanthropus berevolusi terus, isi otaknya menjadi lebih besar, beerapa organismenya seperti tenggorokan, rongga mulut, lidah dan bibir berevolusi menjadi dapat membuat variasi suara yang makin lama makin kompleks, bahkan memiliki suatu sistem komunikasi yang kompleks untuk memenuhi kebutuhannya dalam pembagian kerja dalam berburu yang kompleks. Paraahli geologi menemukan makhluk pithecanthropus yang telah berevolusi ini dalam lapisan bumi yang muda, yakni Pleistosen Muda. Di lembah Sungai Neander di kota Dusseldoef di Jerman dikenal dengan nama “Homo Neandertalensis”.
                 Homo Neandertal berevolusi dalam jangka waktu yang panjang kira-kira 120.000 tahun menjadi manusia Homo sapiens yang sekarang ini. Penemuan fosil homo sapiens menurut rasnya adalah:
a.  Makhluk homo sapiens yang pertama menunjukkan ciri-ciri ras Australoid adalah makhluk yang ditemukan di desa Wajak di lembah sungai Brantas dekat Tulungagung Jawa Timur bagian Selatan dalam lapisan bumi Pleistosen Muda. Fosil tersebut disebut Homo Wajakensis, kira-kira 40.000 tahun yang lalu.
b.    Makhluk homo sapiens yang pertama menunjukkan ciri-ciri ras Mongoloid  di Asia Timur adalah makhluk yang fosilnya ditemukan dekat gua Chou-Kou-Tien, yang disebut dengan Pithecanthropus Pekinensis, antara 40.000 – 30.000 tahun yang lalu.
c.    Makhluk homo sapiens yang pertama menunjukkan ciri-ciri ras Kaukasoid  di Perancis adalah makhluk yang fosilnya ditemukan dekat desa Les Eyzies, yang disebut dengan Pithecanthropus Cromagnon sebagai nenek moyang penduduk Eropa sekarang, kira-kira 60.000 tahun yang lalu.
d.    Makhluk homo sapiens yang pertama menunjukkan ciri-ciri ras Negroid adalah makhluk yang fosilnya ditemukan di Gurun Sahara di dekat Asselar, 400 km sebelah Timur Laut Timbuktu yang disebut dengan Pithecanthropus Asselar kira-kira 14.000 tahun yang lalu. Ras Negroid kini dinilai sebagai ras manusia yang paling muda.
                 Dalam perkembangan homo sapiens dan kebudayaan sebagai makhluk manusia divisualisasikan sebagai berikut:



KEBUDAYAAN
 
       


 



















4.    Aneka Warna Manusia
                 Makhluk manusia yang tersebar di seluruh muka bumi dan yang hidup di dalam segala macam lingkungan alam, menunjukkan suatu aneka warna fisik yang tampak nyata. Ciri lahir seperti warna rambut, warna kulit, bentuk muka, dan sebagainya menyebabkan pengertian yang disebut “RAS”. Ras sebagai suatu golongan manusia yang menunjukkan berbagai ciri tubuh yang tertentu dengan suatu frekuensi yang besar. Dengan kata lain “ras”  merupakan keberadaan manusia yang dibedakan atas dasar: (a). tampilan fisik,  (b). tipe/golongan keturunan, (c). pola keturunan, (d). semua kelakuan bawaan yang tergolong unik, berbeda dengan penduduk asli.
Deskripsi etnografi aneka warna kebudayaan difokuskan pada: kebudayaan-kebudayaan dengan corak yang khas yang disebut dengan SUKU BANGSA atau ETNIK. Suku bangsa atau etnik adalah suatu golongan manusia yg terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan, yg seringkali dikuatkan dengan “bahasa”. Jadi suku bangsa atau etnik merupakan kumpulan orang yang dibedakan terutama oleh ciri-ciri kebudayaan/ bangsa, yang meliputi: (a). keunikan dalam perangai atau budaya, (b). perasaan sebagai satu komunitas, (c). status keanggotaan bersifat keturunan, (d). berdiam tempat tinggal tertentu.
                 Metode untuk mengklaskan aneka ras manusia terutama memperhatikan ciri lahir atau ciri-ciri morfologi, pada tubuh individu-individu berbagai bangsa di dunia. Ciri-ciri morfologi dalam praktek merupakan ciri-ciri fenotipe, terdiri dari dua golongan, yaitu: (a). ciri-ciri kualitatif (seperti warna kulit, bentuk rambut, dan sebagainya); (b). ciri-ciri kuantitatif (seperti berat badan, ukuran tinggi badan, dan sebagainya).
                 Dalam mengklasifikasikan ras-ras, sekarang dibangun dengan cara filogenetik, yaitu tidak hanya menggambarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara ras-ras, juga menggambarkan hubungan-hubungan asal-usul antara ras-ras serta percabangannya. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai ciri-ciri genotipe. Ciri-ciri genotipe dapat diketahui pada gen yang tidak mudah dirubah oleh pengaruh proses-proses mutasi, seleksi. Misalnya, gen untuk golongan darah A – B – C; gen untuk tipe darah MN; gen untuk kemampuan mencium bau zat phenylthiocarbomide.
                 Pada masa sekarang, sudah berkembang metode-metode untuk mengklasifikasikan ras berdasarkan frekuensi golongan darah. Terdapat frekuensi tertentu dari satu macam golongan darah akan tampak dalam daerah-daerah tertentu di muka bumi ini. Misalnya, meskipun pada orang Sunda terdapat individu-individu dari semuagolongan darah, namun ada suatu prosentase tinggi (kurang lebih 51%) penduduk Jawa Barat yangberdarah O, penduduk Tokyo dari 30.000 individu yang pernah diteliti, terdapat frekuensi tinggi dari darah golongan A dan B.  Daerah-daerah dengan prosentase golongan-golongan darah yang sama tersebut duhubungan dengan garis-garis di atas peta (isogeneses). Selanjutnya dapat dibuat gambarandari bangsa-bangsa yang dahulu berasal dari satu nenek moyang.
                 Klasifikasi A.L Kroeber, penggolongan ras-ras di dunia adalah sebagai berikut:
(a). Australoid; (b). Mongoloid; (c). Caucasoid; (d). Negroid; (e). Ras khusus (Bushman, Veddoid, Polynesian, Ainu).

5. Organisma Manusia
                 Makhluk manusia adalah makhluk yang hidup berkelompok, mempunyai organisme yang secara biologis sangat kalah kemampuan fisiknya dengan jenis biantang berkelompok yang lain. Manusia telah berevolusi lebih maju dibanding dengan binatang. Otak manusia telah dikembangkan oleh bahasa, tetapi perkembangan bahasa juga ditentukan oleh kemampuan akal, yaitu kemampuan untuk membentuk gagasan dan konsep yang makin lama, makin tajam untuk memilih alternatif tindakan yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup manusia. Bahasa menyebabkan manusia dapat belajar konsep yang konkrit dan abstrak tanpa mengalami sendiri peristiwa tersebut.
                 Manusia memanfaatkan akalnya untuk membentuk identitas diri dan kesadaran kepribadian diri sendiri, serta dapat lepas dari keterikatan lingkungan alam. Akhirnya, dengan kemampuan akal budinya kehidupan organisme manusia berbeda dengan kehidupan binatang. Akal budi manusia mampu mengembangkan sistem-sistem, yaitu: sistem perkembangan vokal atau bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, siatem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, sistem kesenian, yang selanjutnya disebut kebudayaan.
                 Perkembangan kebudayaan tidak ditentukan oleh sistem gen, berbeda dengan kemampuan organisme binatang. Contohnya, kemampuan serangga untuk membuat berbagai macam sarang yang terpola indah, telah ditentukan oleh gen serangga secara turun tumurun. Sebaliknya manusia harus mempelajari kebudayaannya sejak lahir, sepanjang rentang kehidupannya sehingga mampu mengembangkan kreatifitasnya, karya manusia satu dengan manusia lain saling berbeda.

Evaluasi:
1.    Jelaskan sistem klasifikasi makhluk di dunia berdasarkan morfologinya
2.  Jelaskan tiga golongan proses evolusi menurut analisa ahli biologi
3.  Gambarkan konsepsi lama missing link dan konsepsi baru makhluk induk nenek moyang manusia.
4.  Gambarkan klasifikasi A.L Kroeber, penggolongan ras-ras di dunia.
5.  Berikan ilustrasi contoh konkrit manusia telah berevolusi lebih maju dibanding dengan binatang

0 komentar:

Poskan Komentar